Blog EntryDasar BinatangAug 13, '07 3:33 AM
for everyone

Dasar Binatang!

Oleh; Bung Gun

 

Prolog

Alam raya diciptakan Allah SWT hanya untuk manusia. Dan semua adalah bukti eksistensi dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Manusia diciptakan oleh Allah, (secara khusus lagi sebenarnya umat Islam) untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya itu. Salah satu tanda-tanda kebesaran Allah yang di ciptakan untuk pelajaran manusia adalah binatang. Binatang? bukanlah ia makhluk yang hina?, dan ia juga makhluk yang rendah. Mengapa demikian? Binatang, karena dianggap rendah dan hina terkadang menjadi object penderita yang diungkapkan manusia untuk merendahkan/mengejek/menghina sesamanya, kasihan dech luch bin.

 

Dasar Binatang!

Judul di atas bukanlah umpatan penulis, tetapi sebuah ungkapan yang penulis sering dengar diungkapkan orang ketika marah. Lalu mengapa penulis jadikan sebuah judul tulisan? Bukankah itu kata yang kasar, tidak sopan? Terus terang judul tersebut di buat hanya sebagai umpan saja agar di baca, tak bermaksud menghina, mencela siapapun, apalagi mendiskreditkan binatang he..he.he…, selain itu kata tersebut penulis jadikan sebuah judul tulisan sebagai bentuk simpati untuk ciptaan makhluk Tuhan yang satu ini mereka dianggap rendah dan hina padahal tak ada ukuran untuk memberinya label dan level tersebut. Kasihan kamu dech kamu bin, selalu jadi object penderita, dari manusia yang merasa lebih mulia.

 

Manusia dan Binatang Beda Tipis, Sadarlah Manusia!

Manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang “paling sempurna”. Walau secara fisik boleh dikata hanya sedikit beda. Akan tetapi yang pasti dan membedakan manusian dengan binatanga hanya satu factor yaitu manusia memiliki hati/qalb. Mengapa qalb, bukanya akal atau fikiran? Bagi penulis akal/fikiran adalah out put, in put nya ada di mata dan telinga (karena ia tempat masuk segala bahan mentah, bahan dasar, apa yang dilihat, apa yang di dengar dll), sedang proses pengolahan atau filternya adalah qalb dan akal/fikiran adalah out put nya. Proses-proses tersebutlah yang membuat manusia menjadi “sempurna” dan hal ini yang membedakan secara hakiki antara manusia dengan ciptaan Allah yang lainnya.

 

Mengapa beda tipis? Bukankah sangat jauh berbeda? Satu sisi bolehlah begitu tetapi di sisi lain ada hal yang dapat menjadikan manusia berada jauh di bawah derajat binatang. Binatang, diawal sudah saya katakan tak ada ukuran yang bisa memberinya level rendah atau mulia, sedang manusia jelas sekali ukurannya. Binatang hanyalah accessories, ia diciptakan untuk manusia, bahkan bukan hanya binatang Allah, seluruh alam ini Allah ciptakan untuk manusia. Semua adalah ayat-ayat/tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang yang mau berfikir.

 

Apakah manusia makhluk yang mulia?

Sering kita dengar, kita lihat atau kita baca berita atau tayangan media cetak dan elektronik ada bayi dibunuh orang tuanya, dibuang ke tempat sampah, ke got, sungai/kali dengan berbagai alasan. Ada orang tua kandung/tiri memperkosa anak kandung/tirinya, istri membunuh suami atau sebaliknya dan lain-lain dan lain-lain. Berbagai perilaku hina dan rendah di pertontonkan manusia yang katanya yang berpredikat makhluk yang sempurna lagi mulia. Seks bebas antar jenis kelamin atau sesama jenis kelamin, miras dan narkoba seakan menjadi pemandangan biasa. Perilaku-perilaku rendah dan hina lainnya kerap dipertontonkan manusia, mulia dan sempurnakah manusia?

 

Belajar dari kemuliaan perilaku binatang

Kami guru para guru special subject (Islam, Kristen, dan katolik) sekolah high/scope Indonesia adalah tim yang dibentuk sekolah untuk sebuah program 3 CD (Character, Cultural and Community Development). Sebuah program pembelajaran dengan tujuan membangun komunitas/masyarakat Indonesia yang berkarakter (akhlak mulia) kuat dengan landasan agama dan budaya Indonesia yang majemuk ditengah persaingan global.

 

Di term I ini kami mempunyai kajian tentang keluarga (family), dengan basic penanaman nilai dengan stressing bagaimana membentuk keluarga yang bahagia?. Salah satu bentuk pengajarannya saat itu kami menyajikan potongan-potongan film dari karya Harun Yahya, tentang dunia binantang, diantara potongan-potongan film tersebut adalah;

  1. Burung, salah satu species burung, induknya membuat sarang yang sangat tersembunyi di balik sebuah air terjun. Tujuan pembuatan itu adalah menghindari pemangsa anak-anak mereka yang lemah. Sang induk saling bergantian mencari makan dan memberi makan “bayi-bayi” mungilnya tanpa kenal lelah. Ia ingin anaknya terlindungi dan kebutuhannya terpenuhi, subhanallah!
  2. Zebra,, seekor induk zebra, rela mengorbankan dirinya demi anaknya ketika sang “raja hutan” mengejarnya. Ia mencoba menghalau serangan “raja singa” dengan menghalang-halangi dan berlari di belakang anaknya.
  3. Cheetah,  rela mengorbankan jiwa demi hidup anak-anaknya dari buruan “raja hutan” dengan mengalihkan perhatiannya , sampai anaknya terlepas dari buruan si “raja hutan”.
  4. Pinguin adalah induk paling setia di dunia, sang induk bertelur pada tempat tertentu dengan perjalanan yang sangat melelahkan pada cuaca – 50 derajat celcius. Setelah bertelur ia mengyerahkan ke induk piguin jantan untuk mengerami telur tersebut. Penguin bertina kembali kelaut untuk mencari dan mengumpulkan makanan untuk anaknya kelak. Sedang dang induk jantan dengan setia mengerami telur ditengah hembusan badai salju sambil berdiri selama kurang lebih empat bulan, subhanallah!. Ketika telur telah menetas sang betina telah kembali dengan membawa banyak makanan untuk anaknya, sang jantan kemudian meyerahkan “bayi” penguin kepada induk betina, ia kemudian menuju ke laut untuk mencari makan buat anak mereka. Sebuah kerja sama yang bagus dengan perjuangan yang dahsyat, subhanallah!

 

Sebenarnya banyak lagi contoh yang Allah perlihatkan kepada manusia yang katanya ciptaan Allah  yang “paling mulia” dan “paling sempurna”, benarkah? Sebuah tanda tanya besar buat mereka-mereka yang berakal!, dari sini kami ingin menyampaikan kepada siswa kami, bukan tidak mungkin orang tua mereka juga bekerja dan berjuang keras untuk kebutuhan hidup dan kebahagiaan anaknya, maka sebagai seorang anak hendaknya menyadari hal tersebut dengan tidak menyia-nyiakan kasih sayangnya.

 

Selain itu kami juga menanamkan nilai-nilai moral dan kesadaran kepada mereka bahwa sebuah keluarga adalah tim kerja atau bisa diumpamakan sebuah bangunan, sukses atau gagal, berdiri atau hancur, indah atau rusak, bahagia atau sengsara tim tersebut tergantung kesadaran masing-masing individu yang ada di dalamnya. Dengan harapan  semoga kelak mereka dapat mengaktualisasikan nilai-nilai yang telah mereka dapatkan dalam kehidupan nyata/ real live serta mampu menunjukan bahwa manusia memang makhluk yang mulia dan sempurna, wallaahu ‘alam.

 

 

 

 

 

 


Add a Comment